Aneka Informasi

Untuk yang belum tau …

Ekonomi Asia Timur

Ekonomi Asia mulai mengkristal dimotori Jepang & China

Economy & Politics

Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya selayaknya menjaga keseimbangan arus dagang dan investasi dengan China dan Jepang untuk menangkap gejala kristalisasi ekonomi Asia yang tampaknya akan dimotori kedua negara tersebut.

JAKARTA, financeroll.com – Dari data pertumbuhan ekonomi yang dirilis Bank Pembangunan Asia (ADB) baru-baru ini, ekonomi Asteng tahun ini tumbuh hanya 5,5 persen, dua persen dibawah pertumbuhan Asia Selatan (Asel) seperti India, Banglades dan Pakistan.

Di saat yang sama, Hongkong tumbuh 6,5% yang berarti di atas dua negara Asia Timur (Astim) lain seperti Taiwan (4,3) dan Korsel. (5,1) kecuali Jepang. Data itu menarik karena China satu-satunya negara Asia yang tahun tumbuh di atas 10% yakni 10,4 persen.

China bisa menikmati dua keunggulan sekaligus. Selain negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, negeri Tirai Bambu itu adalah pengantong devisa terbesar dunia, disusul Jepang di urutan kedua.

Perolehan devisa Jepang menjelang Agustus tahun ini hampir mencapai 900 miliar dolar pada penghujung Agustus sementara Cina hampir satu triliun dolar akhir Juli tahun ini. Jepang dalam tujuh tahun terakhir boleh dikata jauh dari deflasi. Namun, sebagian besar devisa Jepang disimpan dalam dolar. Sementara China, bisa mencapai semua itu a.l. dengan menerapkan nilai tukar yang ketat..

Ekonomi Asia secara umum diperkirakan tumbuh hingga 7,7% sampai akhir tahun ini meskipun terus dibayang-bayangi oleh ketidakpastian moneter yang dipengaruhi oleh dolar dan euro. Dalam dekade terakhir, krisis moneter telah menjadi momok yang menakutkan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia, terutama Indonesia.

Dampak langsung dari ketidakpastian itu adalah lahirnya kebijakan-kebijakan moneter yang salah kaprah dan tidak tentu arah. Setiap saat, tekanan inflasi di dalam negeri bisa memicu krisis ekonomi. Apalagi, neraca perdagangan global antara negara industri dengan negara berkembang terbentang jurang yang sangat dalam.

China yang telah berhasil melampaui target pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 9,5 persen menjadi 10,2% menyatakan tidak akan merubah segala kebijakan dasar yang telah berjalan dan menopang prestasi-prestasi di bidang industri dan perdagangan internasional.

Dibanding tetangga di Astim an Asel, negara-negara Asia Tenggara adalah yang paling sulit mengejar pertumbuhan ekonomi di tengah beratnya beban utang, subsidi BBM dan upaya-upaya perbaikan iklim investasi bagi investor lokal dan luar. Gonjang-ganjing politik masih kental di kawan ini.

Melihat China dan Jepang, agaknya nilai investasi yang besar dan tingkat produktivitas yang tinggi adalah faktor utama tumbuh pesatnya ekonomi kedua negara itu. Ini juga berarti peningkatan produktivitas di bidang industri jasa.

Tingkat pertumbuhan industri jasa di Asia, hanya sepertiga pertumbuhan jasa di AS. Untuk itu, negara-negara Asia Tenggara sudah selayaknya mengejar ketertinggalan seperti ini dengan fokus kembali membangun lahan-lahan industri di luar-luar kota, dan kapan perlu hingga ke pedesaan.

Buruknya kondisi sosial politik di Tanah Air terutama setelah krisis moneter menyebabkan sejumlah industri multinasional hengkang dan merelokasi pabriknya di tempat-tempat yang lebih aman seperti Vietnam, Myanmar dan Kamboja.

Kekosongan pasar industri itu dengan cepat diisi oleh China. Kerjasama dagang kedua negara belakangan juga semakin intensif. Kendati industri China terbilang lengkap, akan selalu ada celah-celah industri yang bisa dikerjasamakan baik dalam konsep production sharing maupun operasional –industri jasa.

Begitu juga Jepang, kekosongan industri dirgantara yang tadinya dimotori IPTN, sekarang diisi oleh Mitsubishi yang dalam waktu dekat akan memulai produksi pesawat komersial dengan investasi hampir satu miliar dolar.

Sebelum krismon, Jepang adalah payung pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan saja sebagai investor terbesar di nusantara, melainkan juga banyak proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai negeri Matahari Terbit itu.

Indonesia tidak akan berharap banyak China akan membiayai proyek-proyek infrastruktur jangka panjang.karena di Tiongkok sendiri masih banyak rencana-rencana proyek infrastruktur yang belum klar.

Indonesia juga tidak akan berharap banyak Jepang membatalkan rencana relokasi industrinya di negara lain Tapi paling tidak, Indonesia bisa membaca karakter kedua bangsa itu demi kepentingan ekonomi nasional. Satu hal yang paling sensitif bagi mereka adalah faktor keamanan seperti birokrasi ala preman terminal, isu perburuhan dan kekisruhan politik.

Ketika pengusaha Jepang ‘teriak’ mengatakan birokrasi di Indonesia menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan masalah perburuhan segera diperbaiki, pemerintah adem-adem mesem saja.

China dan Jepang bersama-sama menguasai kekayaan global senilai hampir dua triliun dolar. Bila sekian persen dari cadangan itu dikeluarkan untuk membantu Indonesia keluar dari keterpurukan ekonominya, dampaknya akan sangat luar biasa

Dan untuk mengail itu, tidak cukup dengan pernyataan lewat media massa saja. Presiden SBY harus bisa merealisasikan apa yang telah dia utarakan di forum Forbes baru-baru ini bahwa Indonesia damai dan friendly bagi investor asing.

( sumber : financeroll.com )

Januari 9, 2007 - Posted by | Keuangan

1 Komentar »

  1. China Berbeda dengan Jepang,akar budaya dalam balutan Nasionalisme hanya dipunyai China dan Jepang Hanya menguasai Teknologi sedangkan chinalebih dari itu

    Komentar oleh Totok Rudiyanto | Maret 22, 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: