Aneka Informasi

Untuk yang belum tau …

Maret 2007, Harga Rokok Naik 7 %

Maret 2007, Harga Rokok Naik 7 Persen

[JAKARTA,Suara Pembaruan] Pemerintah menetapkan kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok sebesar tujuh persen mulai 1 Maret 2007. Di samping itu, pemerintah juga menetapkan tarif cukai spesifik untuk produsen rokok golongan I sebesar Rp 7, golongan II Rp 5 dan Golongan III sebesar Rp 3, mulai 1 Juli 2007.

Keputusan tersebut dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.04/2006 tentang kebijakan cukai pada tahun 2007. Keputusan tersebut dikeluarkan pada 1 Desember 2006. Demikian pernyataan tertulis Kepala Biro Humas Depkeu, Samsuar Said, di Jakarta, Jumat (1/12).

Kenaikan harga dilakukan untuk mengamankan target penerimaan cukai dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2007 sebesar Rp 42,03 triliun atau naik Rp 3,53 triliun dibandingkan target pada APBN 2006 sebesar Rp 38,52 triliun.

Selain itu, kenaikan juga dimaksudkan untuk memperbaiki struktur, mengurangi distorsi dan kelangsungan industri hasil tembakau. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah tetap memberikan kesempatan kepada industri tembakau menengah dan kecil agar tetap tumbuh secara wajar.

“Kebijakan itu diambil dengan mempertimbangkan permasalahan terkait dengan produksi dan peredaran rokok ilegal seperti pelanggaran di bidang cukai dalam bentuk memperjualbelikan pita cukai rokok,” ujarnya.

Ada indikasi HJE yang ditetapkan pemerintah lebih tinggi dari harga transaksi pasar sehingga diperlukan strategi untuk mendorong harga transaksi pasar itu mendekati HJE rokok.

Tarif Cukai

Pertimbangan lainnya dalam memutuskan kenaikan HJE adalah sistem tarif cukai yang berlaku saat ini, atau advolarum, memberikan peluang kepada pabrik rokok untuk tetap bertahan pada golongannya guna menghindari kewajiban menaikkan golongan pabrik agar tarif cukai tidak naik.

Kebijakan baru itu diharapkan dapat menciptakan persaingan usaha yang kondusif, mengurangi beban administrasi dan memudahkan pengawasan.

“Sementara itu, dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah akan menyampaikan road map kebijakan cukai jangka menengah agar dapat menjadi pegangan bagi seluruh stake holder industri hasil tembakau,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu, mengatakan produksi rokok sudah naik dalam dua tahun terakhir. Pada 2005, produksi rokok mencapai 220 miliar batang dan saat ini pun sudah pada level yang sama.

“Kita berharap untuk mengurangi konsumsi rokok. Lain dengan pajak cukai, itu memang pajak yang dimaksudkan supaya membatasi produksi,” ujarnya.

Menurutnya, daya beli masyarakat sudah cukup baik saat ini sehingga kenaikan harga tersebut dikompensasikan dengan kemampuan masyarakat untuk membeli rokok, sehingga diharapkan produksi rokok tidak turun drastis.

Kenaikan HJE rokok sudah dibahas dengan produsen rokok namun berapa persen kenaikan HJE memang belum diketahui oleh produsen.

“Kebutuhan Cukai APBN 2007 sebesar Rp 42 triliun, jadi mereka bisa menghitung sendiri. Kebijakan yang kami garisbawahi dari HJE ke cukai spesifik,” ujarnya.

Januari 11, 2007 - Posted by | Umum

2 Komentar »

  1. cukai rokok naik walah pabrik rokok pasti ngamuk tuh…. miris untuk pemerintah kok lambat banget ya jalanin SK mentri gimana gubernur

    Komentar oleh heni | Maret 6, 2007

  2. kalau harga rokok terus naik, bagaimana dengan rakyatnya!!! katanya pingin nyejahterain rakyat….harusnya harga barang harus terjangkau. kalau menurut saya sih….tunjangan anggota DPR tuh yang ke-gede-an, yang bikin uang negara habis.

    Komentar oleh udin | Juni 3, 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: