Aneka Informasi

Untuk yang belum tau …

“Nge-teh” Pun Tak Kalah dari “Ngopi”

“Nge-teh” Pun Tak Kalah dari “Ngopi”

Hampir seluruh budaya yang ada di dunia mengenal teh. Terutama budaya yang berkembang di Benua Asia. Teh baru berkembang ke seluruh dunia setelah kaum Jesuit menemukannya di China dan Portugis datang ke Jepang pada abad ke-17.

Rasanya yang khas, sedikit sepat namun menyegarkan, membuat teh menjadi minuman yang digemari tua dan muda. Apalagi dari berbagai penelitian, diketahui teh memiliki banyak zat alami yang berguna untuk kesehatan dan kecantikan tubuh. Di antaranya adalah antioksidan, polifenol, kafein, dan essential oil.

Sayangnya, di Indonesia budaya minum teh biasanya hanya dilakukan di rumah-rumah. Berbeda dengan kebudayaan minum kopi yang menyerbu dari mulai warung-warung pinggir jalan hingga kafe di plaza bergengsi. Teh pun kalah pamor.

Belakangan, budaya minum teh atau ngeteh mulai populer di tengah masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Pasalnya, beberapa tea lounge dibuka sehingga teh tak lagi menjadi sekadar barang rumahan.

Di daerah Jakarta Selatan, terdapat Tea Addict yang sudah memiliki dua gerai di kawasan Kebayoran dan Kemang. Sementara di Jakarta Utara ada Tea Gallery yang juga baru membuka gerai keduanya di Senayan City. Kedua tea lounge tersebut sama-sama menyediakan teh sebagai sajian utama, dalam berbagai rupa, bentuk dan rasa.

Di Tea Addict, misalnya, kita bisa menemukan sajian-sajian unik seperti Pure Nirvana. Pure Nirvana sendiri merupakan teh yang tak hanya bisa diminum airnya, namun juga dimakan daunnya. Dalam penyajiannya, Pure Nirvana disajikan dalam cangkir yang disertai sendok dan sumpit.

“Sesudah airnya habis, daunnya bisa dinikmati dengan sumpit. Efeknya juga unik. Sesudah menikmati Pure Nirvana, sangat tidak disarankan untuk mengemudi sendiri. Pasalnya, klien akan merasa ngantuk seperti rasa mabuk habis minum alkohol. Namun bedanya, jika mabuk karena alkohol, besok pasti akan merasa pusing dan hangover. Sementara jika mabuk karena Pure Nirvana, keesokan hari pasti merasa segar dan bugar,” ujar Erry Alif, Humas Tea Addict.

Lebih Beragam

Sedangkan di Tea Gallery, jenis teh yang disajikan justru jauh lebih beragam lagi karena berasal dari hampir seluruh negara di dunia. Dari Benua Asia sampai Afrika. Tampilannya pun unik dan menarik, memberikan definisi baru dari teh yang selama ini dikenal masyarakat.

Seperti Bouquet Tea misalnya. Saat melihat namanya di daftar menu, Pembaruan sempat penasaran seperti apakah teh yang bernama indah itu. Apakah bentuknya seperti rangkaian bunga atau lebih unik lagi.

Kala pelayan mengambil bouquet tea dari dalam toples, rasa penasaran menjadi-jadi. Maklum, yang diambil bukannya serbuk teh seperti teh pada umumnya atau segenggam bunga-bungaan. Tangannya justru meraih sebongkah bulatan berwarna gelap dengan semburat merah di tengah.

“Tunggu saja,” katanya menenangkan.

Ia kemudian mencemplungkan bulatan tadi ke teko berisi air panas mendidih. Setelah hampir satu menit menunggu, bulatan tadi merekah menjadi bunga lili yang cantik, dengan dipagari daun-daun teh yang berwarna hijau kehitaman. Wah, cantik!

Bouquet tea ini tersedia dalam berbagai jenis. Semuanya dibuat dari green tea, hanya dibedakan oleh jenis bunga yang ditambahkan ke dalamnya. Sajian itu bisa dinikmati dengan harga sekitar Rp 19 ribu hingga Rp 24 ribu per porsi. Menikmatinya juga mudah. Tunggu empat menit, kemudian tuang teh dari teko ke cangkir. Nikmati selagi panas tanpa tambahan gula maupun krim. Rasakan wangi bunga dalam cairan teh yang terteguk perlahan ke dalam mulut.

Selain itu, koleksi teh di Tea Gallery masih beragam. Semua dipajang di dalam gerainya yang didesain bak toko obat China dengan toples-toples berjajar di rak pajang di dinding. Sementara untuk bisa menikmatinya, pengunjung tinggal memilih bale-bale yang nyaman, sofa, atau kursi-kursi empuk.

Kenyamanan serupa juga ditawarkan oleh Tea Addict. Bedanya, di sini nuansa kafe terasa sekali. Terdapat bar yang tidak menyajikan alkohol. Hanya teh dan beberapa jenis minuman lain yang tersedia dalam daftar. Sofa dan kursi-kursi empuk mendominasi ruangan yang tak seberapa luas, namun diatur sedemikian rupa sehingga tampak nyaman dan homey.

Untuk menambah aura kenyamanan, di kedua tempat tadi, musik yang diputar dipilih dari jenis smooth jazz yang easy listening seperti koleksi lagu milik Norah Jones.

Tak heran jika banyak yang betah berlama-lama di Tea Addict maupun Tea Gallery. Selain nyaman, harganya juga pas di kantong. Dengan modal sekitar Rp 50 ribu per orang, sudah didapatkan minuman yang menyehatkan tubuh, sekaligus tempat yang nyaman dan bisa digunakan selama mungkin tanpa gangguan berarti.

“Banyak pelanggan yang datang dari pagi, mencolokkan kabel laptop mereka kemudian minum teh sambil berinternet dan bekerja. Mereka baru pulang setelah senja tiba. Banyak juga yang menjadikan tempat ini sebagai tempat pelepas stres, sambil menunggu macet reda. Makanya kami upayakan agar suasananya pun bisa nyaman seperti ini,” kata Erry. [Pembaruan/Irawati Diah Astuti]

Januari 11, 2007 - Posted by | kesehatan

3 Komentar »

  1. haaaaaahaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Komentar oleh larno | Februari 16, 2007

  2. haaaaaahaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    payah…..

    Komentar oleh larno | Februari 16, 2007

  3. Tea Gallery emang Cool Abiz….
    tempatnya nyaman n makanann tehnya enak banget…
    kudu coba deh…sekarang udah berganti…Tea Era…

    Komentar oleh rud | Mei 12, 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: